Tidak ada yang istimewa adalah kesimpulan gw, setelah menyaksikan sekitar satu setengah jam penayangan film 2012 dari total sekitar dua setengah jam durasinya. Dimana menurut gw seharusnya film ini sudah mencapai puncak cerita, tapi ternyata gw masih harus menghabiskan satu jam lagi untuk basa-basi nya.
Menurut gw, film 2012 ini murni tertolong karena kepintaran distributornya saja, dalam hal ini Sony Pictures melalui anak perusahaannya Columbia Pictures. Dengan memanfaatkan issue tentang pemanasan global yang dikait-kaitkan dengan ramalan tentang kiamat milik suku Indian Maya, publik seluruh dunia dibuat menantikan film ini layaknya sebuah film besar yang paling perlu diantisipasi tahun ini. Nyatanya film ini hanya sekedar film fiksi ilmiah biasa untuk hiburan belaka, tidak istimewa.
Dengan melihat jadwal rilis film ini, seharusnya publik perfilman sudah bisa menduga kira-kira seperti apa hasil akhir dari film ini. Sebagai gambaran, film-film besar andalan dari masing-masing major studio di Hollywood, biasanya saling berebut tanggal rilis di musim panas (akhir April sampai awal Juli), nah untuk film-film major studio yang kurang pede setelah melihat hasil akhir editingnya, biasanya akan memilih bersaing di musim dingin (pertengahan November sampai awal Januari).
Sebab biasanya di akhir tahun, yang muncul adalah film-film dengan kualitas festival, yang dipersiapkan untuk berlaga di ajang Academy Award (batas penerimaan calon nominasi adalah 31 Desember tiap tahun). Jadi diharapkan di akhir tahun saingan untuk mendapatkan Dollar praktis lebih mudah sebab yang akan beredar kebanyakan adalah film drama berat yang notabene tidak mampu dinikmati semua kalangan. Kecuali kasus trilogi Lord of the Ring dan seri-seri awal dari rangkaian film Harry Potter, yang memenuhi kriteria boxoffice sekaligus mumpuni di festival.
Nah film 2012 ini menurut gw mengambil rumus ini dan mungkin akan sangat berhasil, mengingat saingan terdekatnya “hanya” The Twilight Saga: New Moon yang berbeda seminggu dalam jadwal rilisnya. Beruntung Avatar (James Camerron), salah satu film paling ditunggu publik di tahun 2009 ini, baru akan rilis di pertengahan Desember, jadi 2012 masih sangat mungkin mendulang banyak Dollar.
Roland Emmerich melalui film 2012 ini mencoba bangkit setelah karya terakhirnya 10.000 BC dicacimaki oleh para kritikus, walaupun belum bisa menyamai Independence Day, karya terbaiknya, setidaknya film ini jauh lebih baik dari 10.000 BC yang hancur lebur.
2012 menurut gw lebih mirip dengan The Day After Tomorrow, film Emmerich yang rilis tahun 2004 lalu. Hanya saja di 2012, Emmerich berusaha lebih keras agar tampak lebih epic. Justru di sinilah kelemahan 2012 jika dibandingkan dengan The Day After Tomorrow.
Jika di The Day After Tomorrow, cerita berjalan dinamis tanpa kesan terlalu dipaksakan, sebaliknya di film 2012 ini, Emmerich terkesan memaksa terlalu jauh agar film ini tampil gagah, akibatnya durasi film menjadi terlalu boros. Banyak adegan-adegan yang menurut gw tidak perlu, jika dipotong pun tidak akan mempengaruhi jalan ceritanya.
Emmerich mungkin terpengaruh film Deep Impact nya Mimi Leder yang mampu mengeksplorasi sisi kemanusiaan karakter-karakternya saat menghadapi kiamat. Tapi menurut gw Emmerich gagal dalam hal ini, akibatnya adegan yang dimaksud menjadi terkesan terlalu didramatisir, misalnya adegan Sang Presiden Amrik yang memutuskan mencari ayah seorang anak yang hilang, yang menurut gw absurd untuk situasi menjelang kiamat. Adegan Perdana Menteri Italia yang berdoa bersama di Lapangan St. Petrus, Vatikan juga terlihat berlebihan, atau dialog Lama Rinpoche kepada muridnya menjelang air bah datang. Semua adegan itu tidak penting, hanya memperpanjang durasi film saja.
Walaupun spesial efek yang di tampilkan di film ini sangat mencengangkan penonton, namun di beberapa adegan masih terlihat render yang tidak sempurna, terutama di adegan ketika sang tokoh utama Jackson Curtis membawa keluarganya mengendarai limo berusaha keluar dari kota. Untungnya di sisa film, spesial efek yang ditampilkan mampu memanjakan mata penonton (baca:gw!) dan dengan porsi yang sangat banyak.
Sinematografi di film ini juga menurut gw terlalu datar, mungkin karena terlalu banyak porsi untuk spesial efek sehingga pengambilan gambar untuk lanskap pegunungan Himalaya, dataran rendah Tibet, atau Taman Nasional Yellowstone menjadi tidak terekam keindahan naturalnya. Taruhan, pasti deh gak ada syuting langsung di lokasi-lokasi itu, semua cuma layar hijau doang.
Kelemahan paling mendasar dari film ini menurut gw adalah dialog. Dialog-dialog yang ditulis Emmerich bersama Harald Kloser sepanjang film terdengar sangat garing, tidak ada yang menarik, seperti hanya sekedar mengumpulkan dialog-dialog dari film-film drama yang sudah ada dan dicampur dengan dialog-dialog dari film-film bencana yang sudah pernah dibuat.
Gw melihat bahwa dari awal film ini hanya dipersiapkan sebagai sebuah film dengan tema bencana yang dipenuhi adegan-adegan dasyat penghancuran Bumi, sehingga aspek dialog, yang merupakan elemen penting pembangun emosi film, menjadi tidak maksimal tergarap.
Dari jajaran cast, yang menarik perhatian gw justru Woody Harrelson yang berperan sebagai seorang penyiar radio nyentrik. Seperti biasa sang aktor watak ini mampu menampilkan akting kelas satunya.
Chiwetel Ejiofor yang beruntung terpilih sebagai salah satu tokoh utama di film ini juga bermain lumayan bagus sebagai Dr. Adrian Helmsley. Mungkin ada yang ingat peran kecilnya mendampingi Denzel Washington dua kali di film Inside Man dan American Gangster, tapi aktor ini mulai mencuri perhatian gw waktu tampil bagus di Melinda and Melinda karya Woody Allen.
John Cussack belum mampu menampilkan karisma terbaiknya seperti ketika tampil di Con Air, Being John Malkovich atau High Fidelity. Kali ini penampilannya datar aja, tidak bisa dibandingkan dengan Dennis Quaid di The Day After Tomorrow.
Thandie Newton, resmi hanya sekedar tempelan saja. Berperan sebagai first daughter, tidak terlihat chemistry nya dengan sang ayah yang diperankan Danny Glover, yang juga tidak menampilkan semestinya sosok seorang presiden dari negara terhebat di dunia. Presiden berkulit hitam di film ini apakah sengaja disesuaikan dengan situasi aslinya? Mengingat tahun 2012, Barack Obama masih menjadi Presiden Amrik (kalo gak mati terbunuh, upss…).
Secara keseluruhan 2012 menurut gw tidak jelek, bahkan masih masuk zona bagus. Yang membuat film ini menjadi tidak istimewa buat gw karena, promosi besar-besaran dari pihak Sony Pictures beberapa bulan terakhir ini membuat ekspektasi gw menjadi terlalu tinggi. Emang pinter jualan nih studio.
Banyak adegan yang bisa membuat gw menahan nafas, yang jelas bukan karena nahan kentut, tapi emang karena tegang terbawa emosi film.
Kalo sekedar boxoffice, film ini gak usah diragukan lagi. Pertanyaannya mampukah menyentuh level $200juta di Amerika Bagian Utara? Nah ini yang gw ragu, soalnya minggu depan The Twillight Saga: New Moon udah rilis.
