header image
 

2012 : the movies

Tidak ada yang istimewa adalah kesimpulan gw, setelah menyaksikan sekitar satu setengah jam penayangan film 2012 dari total sekitar dua setengah jam durasinya. Dimana menurut gw seharusnya film ini sudah mencapai puncak cerita, tapi ternyata gw masih harus menghabiskan satu jam lagi untuk basa-basi nya.

Menurut gw, film 2012 ini murni tertolong karena kepintaran distributornya saja, dalam hal ini Sony Pictures melalui anak perusahaannya Columbia Pictures. Dengan memanfaatkan issue tentang pemanasan global yang dikait-kaitkan dengan ramalan tentang kiamat milik suku Indian Maya, publik seluruh dunia dibuat menantikan film ini layaknya sebuah film besar yang paling perlu diantisipasi tahun ini. Nyatanya film ini hanya sekedar film fiksi ilmiah biasa untuk hiburan belaka, tidak istimewa.

Dengan melihat jadwal rilis film ini, seharusnya publik perfilman sudah bisa menduga kira-kira seperti apa hasil akhir dari film ini. Sebagai gambaran, film-film besar andalan dari masing-masing major studio di Hollywood, biasanya saling berebut tanggal rilis di musim panas (akhir April sampai awal Juli), nah untuk film-film major studio yang kurang pede setelah melihat hasil akhir editingnya, biasanya akan memilih bersaing di musim dingin (pertengahan November sampai awal Januari).

Sebab biasanya di akhir tahun, yang muncul adalah film-film dengan kualitas festival, yang dipersiapkan untuk berlaga di ajang Academy Award (batas penerimaan calon nominasi adalah 31 Desember tiap tahun). Jadi diharapkan di akhir tahun saingan untuk mendapatkan Dollar praktis lebih mudah sebab yang akan beredar kebanyakan adalah film drama berat yang notabene tidak mampu dinikmati semua kalangan. Kecuali kasus trilogi Lord of the Ring dan seri-seri awal dari rangkaian film Harry Potter, yang memenuhi kriteria boxoffice sekaligus mumpuni di festival.

Nah film 2012 ini menurut gw mengambil rumus ini dan mungkin akan sangat berhasil, mengingat saingan terdekatnya “hanya” The Twilight Saga: New Moon yang berbeda seminggu dalam jadwal rilisnya. Beruntung Avatar (James Camerron), salah satu film paling ditunggu publik di tahun 2009 ini, baru akan rilis di pertengahan Desember, jadi 2012 masih sangat mungkin mendulang banyak Dollar.

Roland Emmerich melalui film 2012 ini mencoba bangkit setelah karya terakhirnya 10.000 BC dicacimaki oleh para kritikus, walaupun belum bisa menyamai Independence Day, karya terbaiknya, setidaknya film ini jauh lebih baik dari 10.000 BC yang hancur lebur.

2012 menurut gw lebih mirip dengan The Day After Tomorrow, film Emmerich yang rilis tahun 2004 lalu. Hanya saja di 2012, Emmerich berusaha lebih keras agar tampak lebih epic. Justru di sinilah kelemahan 2012 jika dibandingkan dengan The Day After Tomorrow.

Jika di The Day After Tomorrow, cerita berjalan dinamis tanpa kesan terlalu dipaksakan, sebaliknya di film 2012 ini, Emmerich terkesan memaksa terlalu jauh agar film ini tampil gagah, akibatnya durasi film menjadi terlalu boros. Banyak adegan-adegan yang menurut gw tidak perlu, jika dipotong pun tidak akan mempengaruhi jalan ceritanya.

Emmerich mungkin terpengaruh film Deep Impact nya Mimi Leder yang mampu mengeksplorasi sisi kemanusiaan karakter-karakternya saat menghadapi kiamat. Tapi menurut gw Emmerich gagal dalam hal ini, akibatnya adegan yang dimaksud menjadi terkesan terlalu didramatisir, misalnya adegan Sang Presiden Amrik yang memutuskan mencari ayah seorang anak yang hilang, yang menurut gw absurd untuk situasi menjelang kiamat. Adegan Perdana Menteri Italia yang berdoa bersama di Lapangan St. Petrus, Vatikan juga terlihat berlebihan, atau dialog Lama Rinpoche kepada muridnya menjelang air bah datang. Semua adegan itu tidak penting, hanya memperpanjang durasi film saja.

Walaupun spesial efek yang di tampilkan di film ini sangat mencengangkan penonton, namun di beberapa adegan masih terlihat render yang tidak sempurna, terutama di adegan ketika sang tokoh utama Jackson Curtis membawa keluarganya mengendarai limo berusaha keluar dari kota. Untungnya di sisa film, spesial efek yang ditampilkan mampu memanjakan mata penonton (baca:gw!) dan dengan porsi yang sangat banyak.

Sinematografi di film ini juga menurut gw terlalu datar, mungkin karena terlalu banyak porsi untuk spesial efek sehingga pengambilan gambar untuk lanskap pegunungan Himalaya, dataran rendah Tibet, atau Taman Nasional Yellowstone menjadi tidak terekam keindahan naturalnya. Taruhan, pasti deh gak ada syuting langsung di lokasi-lokasi itu, semua cuma layar hijau doang.

Kelemahan paling mendasar dari film ini menurut gw adalah dialog. Dialog-dialog yang ditulis Emmerich bersama Harald Kloser sepanjang film terdengar sangat garing, tidak ada yang menarik, seperti hanya sekedar mengumpulkan dialog-dialog dari film-film drama yang sudah ada dan dicampur dengan dialog-dialog dari film-film bencana yang sudah pernah dibuat.

Gw melihat bahwa dari awal film ini hanya dipersiapkan sebagai sebuah film dengan tema bencana yang dipenuhi adegan-adegan dasyat penghancuran Bumi, sehingga aspek dialog, yang merupakan elemen penting pembangun emosi film, menjadi tidak maksimal tergarap.

Dari jajaran cast, yang menarik perhatian gw justru Woody Harrelson yang berperan sebagai seorang penyiar radio nyentrik. Seperti biasa sang aktor watak ini mampu menampilkan akting kelas satunya.

Chiwetel Ejiofor yang beruntung terpilih sebagai salah satu tokoh utama di film ini juga bermain lumayan bagus sebagai Dr. Adrian Helmsley. Mungkin ada yang ingat peran kecilnya mendampingi Denzel Washington dua kali di film Inside Man dan American Gangster, tapi aktor ini mulai mencuri perhatian gw waktu tampil bagus di Melinda and Melinda karya Woody Allen.

John Cussack belum mampu menampilkan karisma terbaiknya seperti ketika tampil di Con Air, Being John Malkovich atau High Fidelity. Kali ini penampilannya datar aja, tidak bisa dibandingkan dengan Dennis Quaid di The Day After Tomorrow.

Thandie Newton, resmi hanya sekedar tempelan saja. Berperan sebagai first daughter, tidak terlihat chemistry nya dengan sang ayah yang diperankan Danny Glover, yang juga tidak menampilkan semestinya sosok seorang presiden dari negara terhebat di dunia. Presiden berkulit hitam di film ini apakah sengaja disesuaikan dengan situasi aslinya? Mengingat tahun 2012, Barack Obama masih menjadi Presiden Amrik (kalo gak mati terbunuh, upss…).

Secara keseluruhan 2012 menurut gw tidak jelek, bahkan masih masuk zona bagus. Yang membuat film ini menjadi tidak istimewa buat gw karena, promosi besar-besaran dari pihak Sony Pictures beberapa bulan terakhir ini membuat ekspektasi gw menjadi terlalu tinggi. Emang pinter jualan nih studio.

Banyak adegan yang bisa membuat gw menahan nafas, yang jelas bukan karena nahan kentut, tapi emang karena tegang terbawa emosi film.

Kalo sekedar boxoffice, film ini gak usah diragukan lagi. Pertanyaannya mampukah menyentuh level $200juta di Amerika Bagian Utara? Nah ini yang gw ragu, soalnya minggu depan The Twillight Saga: New Moon udah rilis.

sebuah cerita unik di hari minggu

banyak cara melewatkan pagi di hari minggu, sebagian sedang menikmati sarapan pagi bersama kekasih hatinya, sebagian sedang ngecengin cewe di gereja sambil nungguin mall buka, sebagian tetep kerja nyari setoran buat dana kawinan yang masih jauh dari harapan, dan sebagian besar masih molor setelah ngelewatin malam minggu yang kepanjangan…gw milih ngelewatin pagi ini dengan males2an di kamar….

gak langsung mandi, tapi langsung idupin laptop, setelah milih-milih lagu, akhirnya Bruce Springsteen yang terpilih buat temenin gw baca koran hari ini sambil sesekali nyruput segelas earl grey tea tanpa gula yang belakangan ini jadi minuman wajib gw…baru mandi sekitar jam 11an…

sebenarnya ada acara makcomblangin temen, tapi rencananya bubar, gara-garanya mahkluk yang mau dimakcomblangin lagi ada acara masing-masing…so untuk siang ampe sore ini gw punya banyak waktu buat gw sendiri…udah lama gak ngerasain punya waktu sebanyak ini…

sisa siang ini gw lewati tanpa ada yang istimewa…lalu tibalah pada suatu kejadian unik sewaktu gw lagi nungguin motor gw didoorsmeer…nah lokasi doorsmeer motor ini tepat di bibir jalan dua arah yang agak padat jalur kendaraannya, jadi suara klakson mobil ama motor adalah salah satu hiburan buat gw sambil nungguin motor gw bersih dicuci…

lalu di tengah macet yang laju kendaraannya cuma sekitar 0-2 km/jam plus adu kuat-kuatan bunyi klakson itu, ada sebuah bis pariwisata yang mengangkut turis-turis bule…semua turis bule di dalam bis ini adalah manusia-manusia yang udah berusia di atas setengah abad *gak enak nulis manula :P* …

kalo dari tampangnya sih, gw curiga dari amrik ato dari eropa utara, soalnya warna kulit ama rambutnya putih pucat semua, gak ada kesan latin…dari aussie? mungkin bukan, soalnya turis aussie kalo ke indonesia paling cuma ke bali ato paling jauh nyangkut di jakarta…

seperti biasa kesan ramah nyerempet kampungan warga kita terhadap para turis seperti; melambaikan tangan sambil cuap-cuap bahasa inggris aneh, ato ngasih senyum terlalu lebar yang kalo diprati’in lama-lama malah keliatan serem, pun diberikan oleh orang-orang di sekitar jalanan tempat gw lagi nungguin motor gw ini…dengan posisi duduk paling dekat dengan jalan tentunya gw bebas menuliskan semua catatan kejadian ini di otak gw…

dan seperti biasa pula, karena merasa mendapat perlakuan menyenangkan, para turis ini berbalik membalas lambaian tangan mereka sesekali diikuti anggukan kepala berulang-ulang yang gw sendiri gak tau artinya, tak ketinggalan senyum lebar layaknya pawai jalanan di acara Fourth of July, setidaknya kalo emang bener mereka dari amrik…

dan yang bikin gw agak terkejut sebenarnya adalah ketika salah satu turis wanita paruh baya itu mengeluarkan pocket camera nya dan mulai mengambil gambar orang-orang di luar bis mereka…tak lama kemudian para sohib turis ini pun serentak pada ngeluarin kamera masing-masing, mulai dari yang pocket sampe yang DSLR, dan rame-rame mulai memotret orang-orang yang sedang melambaikan tangan kepada mereka…

di tengah macet yang lumayan panjang di salah satu kota terkumuh di asia tenggara ini, ternyata para turis ini masih mampu menemukan sebuah hiburan tersendiri…tentunya atraksi memotret ini juga menjadi tontonan warga yang mana tidak sedikit diantaranya yang berani maju ke mendekati bis untuk difoto…termasuk anakanak kecil yang sedang mencuci motor di doorsmeer ini…bibir gw nyungging tersenyum dan perasaan hati gw ikut senang campur geli ngeliat aksi orang-orang ini…

gw memaklumi pemandangan ini sebagai sebuah fenomena unik masyarakat kelas menengah ke bawah dan tidak melihatnya sebagai sebuah bentuk “wajah kampungan” masyarakat kota ini…di tengah gemerlapnya sorotan dunia selebritis yang ditonton masyarakat kelas ini (baca: menengah ke bawah) di tivi, wajar jika mereka sendiri secara sadar ataupun tidak sadar merasa tidak pernah “disoroti” oleh dunia…dan ketika ada kesempatan, mereka pun merasa layak untuk mendapatkan sorotan itu…

jadi menurut mereka, ketika ada sekumpulan turis yang sibuk mengambil foto terhadap aksi mereka, maka aksi mereka pun sudah selayaknya dan sepantasnya semakin menjadi-jadi, dari yang awalnya malu-malu sekarang bener-bener jadi malu-maluin…

dilihat dari satu sisi, ini adalah aksi saling menguntungkan antara kelompok si turis dan kelompok si masyarakat kelas menengah ke bawah ini…bagi si turis, aksi potret-memotret ini adalah selingan unik yang boleh dimaknai sebagai hiburan di tengah kemacetan yang tidak diinginkan ini, di lain pihak, aksi potretmemotret ini adalah sebuah kesempatan untuk menikmati rasa selebritis sesaat…kapan lagi bisa mengumbar rasa narsis seperti selebseleb yang mereka tonton tiap hari di acara infotainment gak mutu di layar kaca…

… … … … …

kejadian sekitar lima menit di tengah kemacetan ini, bagi gw juga adalah sebuah hiburan sekaligus sebagai bahan lelucon yang bisa gw kembangin jadi banyak cerita…misalnya, mungkin ini adalah percakapan yang terjadi ketika para turis-turis ini sedang mengambil gambar :

“Look George, they are all so cute, so small, so colourful, so attractive, so…”

“Honey, they are human not animals, don’t take any picture on them, that is not nice.”

“But Angie have start taking the pictures, i’ll do the same.” sambil ngobrak-ngabrik tas tangannya, akhirnya ia menemukan kamera sakunya dan mulai mengambil gambar, sama seperti yang dilakukan Angella teman satu klub salsa di Talbot County tempat asalnya.

Suaminya yang awalnya tidak tertarik, sekarang meletakkan majalah National Geographic nya dan bangkit dari tempat duduk untuk memandang ke luar jendela bis, ia mendapati orang-orang kerdil berkulit gelap yang sedang bergaya aneh dengan senyum di wajah mereka yang tidak pernah hilang.

“Claire, i’ve asked you not to…”

“But they are enjoying it George, oh come on, we should enjoy this trip, ok honey?. Look at that naked little boy over there, he seems like the guy in the film God Must Be Crazy. ”

“Oh for Christ Shake !”

George pun mengalihkan pandangan ke sahabatnya Albert yang duduk dua baris di balakangnya, dan Albert terlihat sedang menikmati sesi fotonya melebihi Claire, istri George. Dengan DSLR di tangan, Albert terlihat seperti seorang fotografer profesional peraih Pulitzer.

“Hey Al, what are u doing?” George bertanya pada temannya dengan kesan sebal.

“Taking picture, what are thingking i’m doing?”

“But they are not interesting objects.”

“I don’t know, all i know that this is fun. C’mon you should try it, where is you camera?”

“No Al, that is not nice to have fun like this, i mean from the people like them. We are not in the middle of a safari.”

“Oh come on George, can’t you see the smile on their faces? They like it, look at that skinny man over there, with his break-dance style, he is more attractive than a cheetah.” Albert, meneruskan sesi fotonya dan George tidak menghiraukan kawannya lalu meneruskan membaca National Geographic nya.

Sementara itu di barisan belakang dua pria paruh baya lainnya sedang asik membahas hal ini.

“This is exactly the same as twenty years ago, when i first time came to South East Asia.”

“What do you mean, they haven’t changed?”

“Yup, they haven’t changed at all, still like a bunch of tarzan.”

“Hahaha…but this is South East Asia, how do you expect?”

“Yeah like the joke : If you are not rich enough to have safari in Africa, just go to South East Asia. I know it’s mean but maybe the joke has points.”

“And look at those pathetic loosers, having fun by taking pictures from another pathetic loosers out there. They are so easy to please.”

“And what about us?”

“What about us?

“I think we are being a part of those pathetic loosers too.”

“Hahaha…you’re right, yes we are too. ”

“Hahaha…”

… … … … …

Talbot County, Maryland - Amerika Serikat.

Ruangan kantor agen perjalanan ini terlihat kosong, para karyawannya yang cuma berjumlah enam orang sedang istirahat makan siang. Deretan poster-poster bergambar pesawat terbang dan tempat-tempat wisata, terpampang mulai dari pintu masuk sampai ke ruangan manajer.

Di salah satu sudut ruang tempat galon air mineral terpasang di atas dispenser, terlihat sebuah poster berukuran sedang. Terdapat gambar-gambar kecil di dalam poster tersebut, jika dilihat lebih teliti, dapat dikenali gambar wanita Vietnam bertopi lancip dengan baju ao dai, juga gambar seorang nenek yang sedang menggendong cucunya sambil tersenyum ramah dengan latar belakang Lembah Mekong di Laos, lalu ada gambar wanita penari Thailand dengan kuku-kuku lancip mereka dengan posisi setengah berjongkok.

Di antara foto-foto itu, ada sebuah potret seorang laki-laki yang sedang duduk dan tersenyum, terlihat sedang menunggui sepeda motor yang sedang disemprot dengan air oleh seorang anak kecil di dekatnya.

foto hitam putih itu memperlihatkan wajah urban khas sebuah kota yang tidak berkembang dari negara yang sedang berkembang, dan di bawah foto itu terdapat tulisan; Medan, North Sumatra - Indonesia dan dibelakangnya ada tambahan tulisan bercetak miring (Another Calcutta).

august 30 : ice cream day

setelah beberapa hari terakhir ini panasnya gak karu2an, akhirnya gw berhasil mewujudkan impian gw; makan eskrim sepanjang hari…:D

buat sarapan walls magnum+conello blackforrest, empat skup besar (praline, oreo, berry strawberry, regular chocolate) nya Baskin-Robbins buat lunch sambil cuci mata di sun, tinggal satu lagi yang gw pengen banget…

menjelang tea time, berangkatlah menjemput impian ke Brastagi Supermarket, yup haagen-dazs’ vanilla chocolate chip sebagai jurus pamungkas buat ice cream day hari ini…:)

call me crazy, but this is what i called “fullfiling dreams”, starts from the simple things…

… … … … …

sebenarnya ini kali kedua gw makan eskrim sepanjang hari, dulu di jokja juga pernah, kalo gak salah sekitar medio 2003 an…cuma bedanya waktu itu gw makan eskrim seharian sebagai pelarian masalah, daripada ngedrugs, mending ice cream, paling cuma jadi gendut doank…:P

kali ini sebagai pembalasan gara2 beberapa hari ini terlalu panas siang harinya…

… … … … …

ok sekarang mau mandi, lalu hangout ma temen2 buat nyari makanan normal buat dinner…

ciao.

review G.I. Joe: The Rise of Cobra

tahun 2004 saat Stephen Sommers melempar Van Helsing ke pasar, para kritikus film melihat karyanya ini sebagai sebuah film boros, yang menghabiskan begitu banyak dana dengan hasil yang biasabiasa aja…

setelah absen lima tahun, di tahun 2009 ini Sommers kembali dengan sebuah big-budgeted action movie ($175 juta), G.I. Joe : The Rise of Cobra

ada apa dengan Stephen Sommers?

setelah namanya terangkat lewat penyutradaraannya di The Mummy dan The Mummy Returns, Sommers tampaknya kesulitan mengembalikan kemampuan terbaiknya lagi…

menurut gw G.I. Joe, dilihat dari banyak sisi adalah sebuah pencapaian yang sangat buruk untuk sebuah film berbiaya sebegitu besar dan dengan masa produksi yang cukup lama (hampir 2 tahun)…

padahal ketika muncul rumor bahwa serial action-figure buatan Hasbro ini mau dibuat versi layar lebarnya, para penikmat film sangat antusias menunggu hasilnya…gw sendiri walaupun bukan penggemar G.I Joe cukup tertarik menunggu premiere film ini…

film yang garis besar ceritanya melibatkan banyak tokoh dengan casting aktor-aktris yang tidak terlalu terkenal, seharusnya di-back up dengan cerita yang kuat, pelaksanaan produksi yang baik dan didukung dengan spesial efek yang keren pula tentunya…ini adalah formula yang pernah sukses dipraktekkan oleh  Peter Jackson dalam trilogi The Lord of the Ring,  begitu juga dengan Bryan Singer dan Bret Rattner ketika mereka saling melengkapi trilogi X-Men…hal ini lah yang gak gw jumpai di G.I. Joe : The Rise of Cobra

film diawali dengan suguhan klise film-film action yang menampilkan adegan tembak-tembakan lengkap dengan ledakan-ledakan yang cukup memancing adrenalin…dengan perpindahan scene yang cepat, film ini sebenarnya sangat menjanjikan, setidaknya menurut gw di 60 menit pertama…selanjutnya film ini kedodoran sampai akhir film…

cerita yang kurang menarik dan terlalu berlebihan membuat film ini semakin kabur, efek yang terlihat luar biasa namun dengan porsi yang terlalu berlebih membuat penonton mual, terlebih di setengah jam akhir film…ok saat itu lah gw memutuskan bahwa kebanggaan film ini hanya satu bintang di atas film sampah…

bayangkan kita sedang di Pizza Hut, setelah menghabiskan sepiring spagheti dan dilanjutkan dengan lasagna, lalu tiga potong meat lovers ukuran besar, diselingi salad dan ditutup dengan semangkok cream soup…awal yang baik, pertengahan yang lumayan, klimaks, lebih klimaks, muntah…got what i mean? … itu lah gambaran sederhana bagaimana membosankan dan menjadi tidak istimewa nya spesial efek film ini, karena diberikan terusmenerus tanpa jeda…

Channing Tatum yang mencoba peruntungan di genre action tampaknya harus belajar lebih banyak lagi, setidaknya minta saran dari Christian Bale, berhubung di Public Enemies mereka pernah beradu akting di scene yang sama…di G.I Joe, Channing Tatum adalah pemeran utamanya, seharusnya ada sesuatu yang istimewa yang dia berikan, tapi kenyataannya menurut gw terlalu biasa, datar-datar aja…

mungkin ada yang inget film dwilodi Step Up, film tentang street-dance yang mendapat sambutan cukup baik, nah kedua film ini lah yang mengangkat nama Channing Tatum, terlebih buat kaum wanita…

terpilih sebagai sidekick, Marlon Wayans menurut gw gagal total…malah menurut gw lagi nih, karakter Ripcord yang seharusnya menjadi pencair ketegangan dengan jokes nya, benarbenar miscasting dengan memilih Marlon Wayans sebagai pemerannya…semua jokes nya jadi garing, mungkin karakter harsh-comedy yang terlanjur melekat lewat peran di filmfilm komedi dangkal produksi sodaranya, Damon Wayans…

Dennis Quaid yang berperan sebagai Jenderal Hawk, biasabiasa aja penampilannya…film terakhir Quaid yang menurut gw aktingnya bagus adalah In Good Company (2004) selepas itu penampilannya di beberapa film hanya terlihat biasabiasa saja…

ada dua penampilan yang cukup bagus menurut gw, yang pertama adalah Siena Miller yang berperan sebagai The Baroness dan aktor Korea Selatan, Lee Byung Hun yang berperan sebagai si ninja Storm Shadow, tampaknya aktor yang sudah cukup punya nama di negerinya sendiri ini mencoba mengikuti jejak RAIN yang go Hollywood

di G.I. Joe : The Rise of Cobra, ternyata Stephen Sommers tidak melupakan dua nama yang sudah dua kali bekerjasama dengannya lewat The Mummy dan The Mummy Returns, yaitu aktor kelahiran Afrika Selatan, Arnold Vosloo yang kali ini berperan sebagai Zartan dan Brendan Fraser yang muncul sebagai cameo di pertengahan film ini…

tapi apa pun ceritanya gw, film ini tampaknya lumayan bisa diterima publik, terbukti dari pendapatannya di Amerika bagian utara (Canada dan USA) yang sampai dengan hari jum’at kemaren sudah mengumpulkan sekitar $111 juta, artinya di tambah dengan peredaran seluruh dunia plus penjualan DVD dan merchandise, untuk balik modal mungkin bisa terpenuhi…mungkin bisa untung dikit, nah kalo udah gitu apakah bakal ada sequelnya?

walau pun telah mengantongi $111 juta di akhir minggu kedua penayangannya di Amerika bagian utara, tapi melihat anjloknya persentase penonton yang mencapai 59% dibandingkan minggu pertamanya, menurut gw sangat mungkin tidak akan ada sequelnya jika sampai penutupannya di Amerika bagian utara nanti, pendapatannya tidak mencapai $130-150 juta…padahal film ini dari awalnya dipersiapkan sebagai sebuah serial, jadi sangat sayang jika harus berakhir di film pertamanya…

by the way bus way, ada satu temen gw di jakarta yang posting di facebook waktu baru aja selesai nonton film ini sekitar seminggu lalu, menurut temen gw ini film G.I. Joe : The Rise of Cobra, bagusnya ngalahin Transformers 2…kalo dia di medan, udah gw datengin rumahnya trus gw jitak ampe benjol palanya, abis waktu gw tanya, “lo yakin ngalahin Transformers 2?” dia dengan entengnya bilang “absolutely bro!” …

benerbener ngutang jitakan nih bocah!

iya elo #@$%g, gak usah belaga blo’on liat kiri kanan, kalo lo baca tulisan ini, lo pasti tau gw lagi ngomongin lo…”absolutely you bro!!!”

… … … … …

ballada penyaliban rendra

aku menangis ketika katakata itu tiba pada
“-Bapa kami di sorga
telah terbantai domba paling putih
atas altar paling agung.”

orang ini menamakan dirinya Rendra
orangorang panggil dia Merak
aku panggil dia Udara.

aku menangis lebih syahdu ketika katakata itu tiba pada
“Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.”

orang ini menamakan dirinya Rendra
orangorang agungkan pemberontakannya
aku mensyukuri kelahirannya.

dan aku menangis penuh haru ketika katakata itu tiba pada
“Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
- Bapa, selesailah semua!”

orang ini menamakan dirinya Rendra
orangorang mengubur jasadnya
aku mendoakan jiwanya.

medan/12082009/a tribute to Rendra

….. ….. ….. ….. …..

puisi asli WS Rendra berjudul Ballada Penyaliban yang diambil dari kumpulan puisinya Ballada Orang-orang Tercinta , 1957;

Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.

Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya

Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
- Bapa kami di sorga
telah terbantai domba paling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
Berilah kami bianglala!

Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi dosa
dikunyahnya dan betapa getirnya.

Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.

- Perempuan!
mengapa kautangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?

Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.

Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
- Bapa, selesailah semua!

….. ….. ….. ….. …..

kentut

Alkisah pada suatu desa kecil yang sebagian besar penduduknya adalah nelayan.

Matahari di ujung batas lelapnya ketika ayam-ayam jantan muda yang kelebihan semangat mulai membuka mata, seperti kebiasan primitif yang sudah berlangsung jutaan tahun, mereka pun mulai saling memekik satu sama lain.

Di kejauhan terlihat dua pria paruh baya yang berjalan sambil membawa jala ikan menyusuri rentetan rumah-rumah kayu yang berjejer rapi di kedua sisi satu-satunya jalan yang diaspal pemerintah, sebagai hadiah tujuh belasan beberapa tahun lalu.

Di dalam salah satu rumah kayu tersebut, sedang tidur Budi kecil, tak berbaju. tergolek di samping deretan kakak-kakaknya. Sisa pembakaran obat nyamuk semalam bertebaran di sudut-sudut ruang tidur kecil yang tidak berpintu ini, selembar kain kusam menjadi pemisah kamar ini dengan kamar orangtuanya.

… … … … …

Burung-burung pantai mulai beterbangan, menyambut pagi yang dingin seperti pagi-pagi sebelumnya. Sesekali menceburkan diri ke air untuk mendapatkan sarapan paginya.

Kedua pria paruh baya yang bercengkrama menuju perahu mereka yang ditambatkan di bibir pantai berjalan santai. Sebentar lagi mereka akan melewati rumah kayunya si Budi kecil.

Dan tiba lah saatnya ketika kedua pria paruh baya ini melintas persis di depan rumah kayu si Budi kecil, suasana hening pagi yang terasa begitu syahdu dipecahkan dengan suara keras, “Prooo…oottt.”

“Eh, kontut !”

“Iya lah pula.”

“Terkojut aku.”

“Hahaha, aku pun terkojut.”

“Tak biasanya lah kudengar rumah bisa kontut.”

“Bukan rumah Bi.”

“Tau lah aku Lan, masa gitu pun kau debat aku.”

“Hahaha, kau pun lucu.”

Berhenti sejenak Tambi menatap kawannya, “Eh kurasa tanda itu, Lan”

“Eh tanda apa pula nih?”

“Tanda lah dari yang di atas kau itu Lan.”

“Tanda dari Tuhan maksud kau?”

“Iya lah, memangnya kau kira apa lagi yang di atas kau selain Tuhan?”

“Eh ada-ada saja kau ini, masa kontut kau bilang tanda dari Tuhan.”

memandang kawannya dengan serius, “Kenapa tidak?. eh kukasih tau kau yah, banyak ikan kita pagi ini Lan, lihat lah nanti.”

“Insyaallah.”

“Nah gitu lah, setiap tanda dari Tuhan pasti baik Lan.”

“Iya lah Bi, baru kali ini kudengar ada kontut jadi tanda.”

kedua pria paruh baya itu pun melenggang penuh semangat menuju perahu kecil mereka.

… … … … …

so long my true legend : Jacko in memoriam

Michael Jackson akhirnya menutup seluruh kisahnya dengan sebuah ending yang mengejutkan dunia, kematiannya yang tiba-tiba bener2 ngagetin semua orang, termasuk gw…

gw adalah salah satu fans terbesar yang pernah dia punya, di saat popularitasnya banyak dipertanyakan generasi zaman sekarang, gw tetep memujanya sebagai seorang entertainer terbesar yang pernah ada di muka bumi…

gak usah bahas perjalanan hidup dia, gw yakin wikipedia bisa ngejawabnya dengan lebih lengkap, gw pengen nulis tentang arti seorang Jacko buat gw…

gw akrab dengan lagu2 Jacko sekitaran SMP, pada saat itu album Dangerous baru aja diluncurkan gak lama…untuk seorang bocah SMP yang baru beranjak mengenal dunia, tentu sangat membutuhkan seorang role-model untuk membimbing perjalanan spritualnya, dan gw gak milih Jesus, dengan jelas gw milih Jacko “The Real King of the King“…

gw belajar semua lagu2nya, cara dia bernyanyi dan yang paling penting cara dia ngedance… Michael Jackson adalah guru vokal gw juga guru dance gw…

gak lama setelah itu, semua album yang pernah dia keluarin sebelum Dangerous, gw beli, walopun dengan usaha yang ekstra berat…bayangin dengan uang jajan yang sangat terbatas gw mesti ngumpulin semua kaset Jacko yang pada saat itu berkisaran 15ribu perkaset…

dengan rajin dan tekun akhirnya terkumpullah; Off The Wall, Thriller, Bad…lalu di tahun 1995, gw juga jadi salah satu orang di Indonesia yang paling duluan dapet album History

mengingat masa SMP adalah masa paling intim antara gw dengan Jacko…setiap ada kesempatan disuruh nyanyi ama guru di depan kelas, gw selalu menyanyikan lagu2 Jacko, walopun pada saat itu gak ada yang tau, tapi lama2 temen2 sekelas pada ngerti kalo ada seorang fans Jacko di kelas mereka…

gw akhirnya populer di kelas gw sebagai MKJ, sebuah nickname yang di kasih temen2 gw yang akhirnya terus bertahan sampe sekarang sebagai nickname resmi gw; Michael Kandar Jackson…

mungkin setelah memasuki masa kuliah, kegemaran gw terhadap Jacko sedikit terpinggirkan, tapi tak pernah luntur sedikit pun, gw masih ngikuti semua berita tentang do’i…mungkin juga dipengaruhi popularitasnya yang semakin hilang dari keglamouran dunia musik…

itu lah sepenggal kecil arti Michael Jackson bagi gw…gw gak bisa nulis terlalu panjang tentang Jacko, too personal

… … … … …

umur 50 tahun mungkin cukup untuk banyak orang, tapi untuk seorang megabintang selevel Jacko, itu terlalu cepat…

seperti lirik yang ditulis Buz Kohan, Gone Too Soon, salah satu lagu Jacko paling indah yang paling gw suka dari album Dangerous, merefleksikan perjalanan hidup sang maestro;

Like A Comet
Blazing ‘Cross The Evening Sky
Gone Too Soon

Like A Rainbow
Fading In The Twinkling Of An Eye
Gone Too Soon

Shiny And Sparkly
And Splendidly Bright
Here One Day
Gone One Night

Like The Loss Of Sunlight
On A Cloudy Afternoon
Gone Too Soon

Like A Castle
Built Upon A Sandy Beach
Gone Too Soon

Like A Perfect Flower
That Is Just Beyond Your Reach
Gone Too Soon

Born To Amuse, To Inspire, To Delight
Here One Day
Gone One Night

Like A Sunset
Dying With The Rising Of The Moon
Gone Too Soon

Gone Too Soon

… … … … …

so long my friend, you are my true legend.

Transformers : Revenge of the Fallen

Transformers : Revenge of the Fallen sebagai instalmen kedua dari Transformers saga akhirnya dilepas ke publik serentak diseluruh dunia…kalo untuk Transformers (2007) aja gw udah geleng2 kepala sangkin salutnya, untuk film keduanya ini, sumpah sepanjang film, leher gw sakitnya double gara2 geleng2nya juga double…salutnya juga double tentunya…

Transformers : Revenge of the Fallen kembali membawa semua crew yang terlibat di film pertamanya untuk kembali beraksi di film keduanya ini, termasuk executive producernya; Steven “Mr. Perfect” Spielberg…semua pemain penting di film pertama kembali ke pos masing2, ditambah beberapa karakter baru yang lebih kocak, sexy, ama cool (robot2nya)…

Michael Bay kembali lagi dengan sebuah film action gila-gilaan yang udah jadi trademark nya…menonton keseluruhan Transformers : Revenge of the Fallen, gw teringat banget ama Bad Boys II (2003), salah satu hits nya Bay yang kebetulan posternya sempat nyempil di salah satu adegan di Transformers : Revenge of the Fallen

Bad Boys II dan Transformers : Revenge of the Fallen memakai formula yang sama, yaitu sebuah sequel film action dengan spesial efek kelas satu, perpindahan scene yang tanpa basa-basi, dengan alur yang panjang dan cerita berlapis-lapis, diselingi adegan komedi yang berkualitas untuk menjaga tensi penonton biar gak kendor ama adegan action yang terus-menerus…

dan walaupun dengan formula contekan, toh Transformers : Revenge of the Fallentetap berhasil menjadi sebuah film yang luar biasa seru dan menghibur buat gw…

di film keduanya ini, Autobots harus kembali berhadapan dengan Decepticon yang kali ini menampilkan barisan Construction dan diback-up ama The  Fallen yang bertujuan mencuri matahari dari sistem tata surya bumi buat dapetin sumber energi buat ras alien nya…

dengan bergulirnya cerita, penonton akan dimanjakan dengan robot2 baru di kedua belah pihak yang berselisih, lengkap dengan adegan kejar-kejaran plus berantem yang keren banget…

Shia LaBeouf yang memegang peranan kunci di film ini kembali tampil memukau dan sama konyolnya seperti di film pertamanya, dengan pengorbanan sebuah jari (kabarnya do’i harus diamputasi salah satu jarinya karena kecelakaan dilokasi syuting ketika pembuatan film ini) gw rasa Shia LaBeouf bener2 menjadikan film ini sebuah film yang sangat personal baginya…mungkin sama personalnya seperti Spiderman bagi Tobey Maguire…

Megan Fox, sexy banget…asli keren, buat para penikmat keindahan wanita; puassss!!! eniwei, sulit menilai aktingnya soalnya karakter Mikaela seperti hanya tempelan aja, intinya kalo karakter ini dihilangkan pun film ini masih tetep bernyawa…

the robots…cool…ada penambahan banyak robot2 keren yang terlalu canggih untuk dibayangkan, kredit poin buat para disainer produksi film ini…

buat gw Transformers : Revenge of the Fallen sangat mungkin menggeser Star Trek sebagai pengumpul pundi terbesar untuk film2 taon 2009 ini…kita liat aja…

… … … … …

mulai blog ini, tulisan2 gw mudah-mudahan juga udah bisa diliat di facebook.

X-Men Origins : Wolverine

kalo masih ada yang ingat adegan pengenalan karakter Wolverine/Logan di film X-Men (seri pertama), di mana adegan perkelahian di arena besi yang menunjukkan betapa buasnya karakter ini dijadikan pemanasan buat penonton untuk selanjutnya menyelami sisi gelap karakter ini di sepanjang film…film X-Men kemudian memberikan karakter Wolverine porsi yang lebih banyak dibandingkan karakter lainnya, fokus utamanya adalah tentang penyelaman emosi Wolverine untuk menguak misteri masa lalunya…

lalu di instalmen kedua X-Men yang diberi judul X2 : X-Men United, penonton semakin dituntun untuk mengetahui lebih jauh kehidupan kelam Wolverine melalui adegan flashback yang dimunculkan melalui ingatan Logan yang tidak utuh, hanya ditampilkan sepotong-sepotong…di film ini lah akhirnya penonton mengetahui bahwa sosok Wolverine sebagai sebuah produk percobaan militer, tapi sekali lagi, tidak pernah tuntas mengenai latar belakang yang menjelaskan asal muasal Logan

sedangkan di film ketiganya X-Men : The Last Stand, hanya berisi peperangan antar mutant di pihak Prof. Xavier dengan pemimpinnya Wolverine berhadapan dengan pihak Magnetto yang pasukannya dipimpin Jean Grey/Phoenix…tak pernah disinggung lagi tentang masa lalu Wolverine

trilogi film X-Men adalah sebuah fenomena yang mampu menyaingi kesuksesan trilogi film Spiderman yang notabene adalah persembahan dari studio yang sama, Marvel Studios, pendapatannya pun sangat memuaskan pihak studio, sehingga pihak studio pun tergelitik untuk melanjutkan seri X-Men…karena project X-Men 4 takut dianggap terlalu dipaksakan (mengingat ending film ketiganya yang dramatis), kenapa tidak membuat sebuah prequel untuk menyingkap the missing link yang ditinggalkan dalam ketiga film pertama…

maka terpilih lah Wolverine sebagai karakter yang paling masuk akal untuk diangkat ke layar lebar dengan harapan dapat diterima oleh penggemar film X-Men, sebab karakter ini sudah begitu dominan di ketiga film terdahulu…

karakter Wolverine ciptaan Bryan Singer (sutradara dari dua film pertama X-Men), sebenarnya jauh dari gambaran asli Wolverine versi komik…baik dari tampilan maupun kostum, Wolverine versi film dan komik sama sekali berbeda, begitu juga ketika Bryan Singer menetapkan Wolverine sebagai pemimpin pasukan X-Men menyingkirkan Cyclops yang lebih populer di versi komiknya…awalnya para penggemar komik X-Men protes, namun setelah menyaksikan film pertamanya, banyak penggemar yang tadinya protes akhirnya bisa menerima perubahan-perubahan yang dibuat Bryan Singer…dan Wolverine pun terkenal di seluruh dunia sebagai icon X-Men

X-Men Origins : Wolverine, menceritakan asal usul James Logan mulai dari masa kecilnya sampai kemudian bagaimana ia mendapatkan transplansi logam Adamantium di tubuhnya, yang merubahnya menjadi Wolverine yang begitu kuat…

film ini akan menuntun penonton menyambung semua link yang terputus dalam 2 film pertama dari trilogi X-Men terdahulu…tapi menurut gw justru karena usaha yang terlau dipaksakan untuk menuntun penonton inilah, sang sutradara, Gavin Hood terjebak dalam sebuah gaya penceritaan yang sangat monoton, terlalu datar bahkan menurut gw hampir tidak ada kejutan berarti yang diberikan di film ini…

Gavin Hood menurut gw sangat berdosa membawa film ini menjadi sebuah film musim panas yang terlalu biasa, sebuah proyek besar dari Fox Studios yang bekerjasama dengan Marvel Studios dengan budget besar pula, lalu di jajaran executive producer ada nama Richard Donner yang udah kepalang piawai lewat tangan dinginnya yang pernah menghasilkan Superman series, juga Lethal Weapons series, lalu juga nama Stan Lee yang adalah mastermind dari proyek film-film keluaran Marvel Studios

seharusnya X-Men Origins : Wolverine, yang di Amerika bagian utara serentak akan diputar tanggal 1 Mei mendatang, sedianya adalah film besar pertama yang akan dilepas ke publik pada masa parade film-film musim panas tahun ini, tapi masalah pembajakan mungkin juga ikut menentukan produk akhir film ini…kabarnya ada perombakan dibeberapa bagian film yang sebenarnya telah selesai diedit, hal ini untuk memaksakan sebuah ending cerita yang berbeda dari versi bajakannya…

akibatnya menurut gw X-Men Origins : Wolverine, menjadi sebuah film action biasa-biasa aja, gak ada spesialnya…menurut gw nih, film ini adalah sebuah proyek film layar lebar yang berkualitas film seri televisi…menonton film ini seperti menonton 2 episode film seri televisi secara maraton, cuma nontonnya di layar lebar bioskop gak di tipi…

gw masih inget taon lalu, parade film musim panas dibuka dengan sebuah film yang cukup bagus, produk Marvel Studios juga; Iron Man

Ke Tangkahan,10-12 April 09

Speaker tua yang tergantung persis di atas kepalanya Jimmy ributnya gak karu-karuan, musik dangdut ganti-gantian mengalun dengan cemprengnya. Walaupun ngerasa dongkol, tapi ini lah satu-satunya hiburan yang tersedia di dalam bus Pembangunan Semesta (sering juga di sebut “PS”) tujuan Tangkahan ini.

gw ama temen-temen berangkat dari Terminal Pinang Baris sekitar jam 10an siang, setelah nunggu kurang lebih satu jam di tengah hujan yang lumayan besar.

Di terminal tadi sempet dikasih tau kalo perjalanan mungkin makan waktu sekitar 5 jam sampe ke Tangkahan, tapi kan cuma perkiraan doank.

Dengan jalur melewati Binjai, Tandam lalu memasuki daerah Kwala Sawit, di sini pemandangan di luar jendela yang tampak hanya barisan pohon-pohon karet, sesekali rumah penduduk muncul berselang-seling dengan kebun karet, layaknya perlombaan. Seperti adegan di film noir yang monochrome, sedikit membosankan.

Jalan yang semakin lama semakin rusak dengan kontur yang plin-plan (kadang nanjak banget, kadang nukik banget) secara mengejutkan justru sedikit menambah keceriaan di antara kami.

Setelah beberapa kali perhentian yang agak lama, sekitar jam 3an sore, bus yang kami tumpangi pun berhenti di lapangan kecil yang ternyata adalah halaman Visitor Center Ekowisata Tangkahan. Perjalanan panjang pun berakhir.

Ternyata menuju tempat penginapan harus menyeberangi Sungai Batang yang lebarnya kurang lebih 20-25 meter dengan sebuah getek berteknologi tradisional, kaptennya adalah seorang bapak paruh baya berusia sekitar 50an bernama Pak Siang. Sang kapten masih sempat membuat sedikit lelucon untuk mengalihkan perhatian kami dari kondisi geteknya yang seadanya, takut anak-anak kota ini takut ngeliat derasnya aliran sungai yang harus dilewati.

Seperti berganti film, pemandangan yang semula dipenuhi adegan perkebunan karet dan kelap sawit, berganti menjadi lanskap indah khas hutan hujan tropis.

Bebatuan yang berbatasan langsung dengan bibir sungai di satu sisi dan dengan deretan pepohonan hijau di sisi lainnya, menciptakan sebuah komposisi pemandangan alam yang luar biasa indah, sebuah masterpiece dari Sang Empunya kehidupan. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan bagi kami, terbayar lunas dengan sambutan alam yang begitu menakjubkan. Gw rasa gak ada satu pun dari kami saat itu yang tidak terpana, atau menyesal telah ikut perjalanan nekat ini.

perjalanan kali ini termasuk nekat, soalnya gak seorang pun dari kami berenam yang ikut perjalanan kali ini, pernah menginjakkan kakinya di Tangkahan sebelumnya. Perjalanan ke Tangkahan ini sebenarnya bermula dari sebuah Poster sederhana bergambar seekor gajah yang ditunggangi seorang turis bule dan di atasnya tertulis kalimat The Hidden Paradise, poster ini dilihat pertama kali ama Budi di Sun Plaza sekitar setaon lalu.

Berhubung gw ama temen-temen gw udah pada bosen ama liburan di sekitar Medan; kalo gak Berastagi, paling jauh ke Prapat (bukan sombong neh hehehe) akhirnya kita mutusin buat ke tempat yang ada di poster itu; sebuah tempat aneh bernama Tangkahan yang sepertinya cukup keren kalo dari tampilan posternya, juga tulisan norak di poster itu cukup bikin penasaran, emang masih ada Paradise yang hidden di deket Medan ini? 

Hunting di internet pun dilancarkan para anak-anak nekat ini, alhasil terkumpullah semua info yang dibutuhkan, tanggal keberangkatan pun di pastikan; 10 sampe 12 April, pas liburan. Anak-anak yang bisa ikut trip ini yang jelas mesti nekat, berjiwa petualang, dikit gila, mesti jomblo (ato minimal pacarnya gak di Medan), gak manja, biasa digigit nyamuk, punya tas backpack, punya duit sekitar 350ribu. Dan akhirnya terkumpul 6 orang yang memenuhi kreiteria di atas; gw, Budi, Andy, Jimmy, Acau dan Edi.

Di seberang Sungai Batang, kami harus mendaki belasan anak tangga untuk mencapai Mega Inn, sebuah penginapan yang cukup asri dan nyaman. Pemiliknya seorang Karo ramah yang bernama Bang Mega, dan yang dari tadi ngejemput kita di Visitor Center adalah adiknya, seorang anak muda yang cukup ligat bernama Perari tapi lebih suka dipanggil Fren.

Selesai makan siang kami (jam 3an sore), rencana pertama sudah diputuskan; tubbing ke sumber air panas di Sungai Buluh. Fren menyiapkan sekitar 3 buah ban karet gede dan memandu kami menuju Sungai Buluh dengan melewati pinggiran hutan. Perjalanan ternyata sangat singkat, hanya dalam waktu kurang lebih 5-8 menit sambil melewati beberapa penginapan lain, tiba-tiba kami sudah sampai di sebuah tebing kecil. Menuruni beberapa anak tangga lagi bukanlah masalah bagi gw, perasaan takjub terhadap sajian alam di bawah tebing sudah terlalu mengebu-gebu.

Beberapa kejadian unik dan panik sempat mewarnai sisa sore hari pertama kami di Tangkahan, selama di Sungai Buluh yang cukup dangkal tapi memiliki arus yang cukup deras; kulit lutut Budi robek tergores batu sungai yang tajam, lalu nih anak juga hampir hanyut di atas ban (hanyut di atas ban ?), lalu sendi di bahu gw copot waktu berenang gaya bebas (ternyata belum sembuh benar tapi dipaksa juga) akibatnya gw juga hampir tenggelam (tenggelam di sungai yang dalamnya sedengkul doank?), Andy yang gak bisa berenang juga hampir hanyut waktu duduk di atas ban, kebawa arus sebelum ditarik ama Jimmy, juga Acau yang gak puas-puasnya nyelupin badan di tempat air panas (yang ternyata kecil banget, cuma muat satu orang), cuma Edi ama Jimmy doank yang adem ayem aja maen air.

ternyata ada penumpang gelap yang ngikutin kami pulang ke penginapan, yaitu dua ekor pacet yang lagi nempel dengan manisnya di kaki Budi. Tanpa ba bi bu, dengan sebuah gerakan super cepat, kedua pacet ini pun gugur dalam tugasnya mencari makan, kasihan. Berselang beberapa detik kemudian, kami pun sibuk memeriksa semua anggota tubuh kami, nyariin temen seperjuangan pacet-pacet tadi yang baru aja gugur, sapa tau ada yang ikutan lengket. Area pencarian dimulai dari daerah yang masuk akal sampe tempat yang gak masuk akal untuk dilengketin pun di geledah, hasilnya sungguh memuaskan semua pihak; negatif !, artinya; cuma Budi doank yang didemenin ama pacet hehehe…

Makan malam seadanya, karena menu yang gak terlalu banyak pilihan, masing-masing semangkok mi instant rebus plus telor dan segelas teh tong panas (baca: teh tawar gak pake gula). Di sebelah meja kami, dua orang cowo bule paruh baya lagi ngobrol asik, kalo dari aksennya kayanya sih Aussie.

Listrik di penginapan kami (mungkin untuk semua penginapan di sini) hanya mengandalkan tenaga genset yang baru dihidupkan jam 7 malam dengan durasi 4 jam, jadi setelah jam 11 malam, semua penerangan yang ada harus diganti dengan lampu teplok (baca: petromak).

gw seneng dengan keadaan di sini, jauh dari hiruk pikik kota, yang ada hanya perasaan tentram, ama damai yang sulit gw gambarin. Semua debu yang bersliweran di jalanan kota berganti menjadi udara bersih yang melimpah ruah menunggu untuk dihirup.  Bunyi bising klakson kendaraan yang gila berlomba gede-gedean di tengah kemacetan kota berganti menjadi suara genit jangkrik dan cicit merdu burung di pucuk-pucuk pohon yang tersebar sejauh mata mamandang. Apalagi yang gw perlukan ?

Satu-satunya alat menuju peradaban luar adalah seutas kabel penguat sinyal milik Bang Mega. Hanya dengan melekatkan hape di kabel kurus ini lah untung-untungan hape kita bisa nangkep sekotak sinyal. Dan ternyata gak banyak dari kita yang beruntung, cuma hape Budi, Acau ama Edi doank yang bisa nangkep sinyal setelah dilengketin ama kabel ini. Hape gw dua-duanya gak bisa, begitu juga dengan PDA phone nya Andy, hape Jimmy kadang masih mau dapet, tapi lebih banyak gak maunya…

Malam sebelumnya, gw masih sempet ngedonat bareng Jimmy, Budi, ama Acau di J.Co sesekali menyeruput capucino, sambil ngebahas tentang persiapan akhir ke Tangkahan. Malam ini, di waktu yang sama tapi dengan tempat dan situasi yang kontras berbeda, kami sedang menikmati nyanyian alam di tengah kegelapan hutan dengan makanan seadanya. Tapi entah kenapa gw ngerasa lebih nikmat malam ini.

Malam pertama, gw kurang bisa tidur nyenyak, lantaran banyak serangga-serangga kecil yang berkeliaran di sekitar lampu teplok yang letaknya di atas kepala gw, sementara temen seranjang gw; Jimmy ama Andy keliatannya gak ada masalah. Di kamar sebelah ternyata lagak tidurnya Acau yang kurang rapi (baca: lasak) cukup menyiksa Budi yang posisinya terjepit diantara Acau dan Edi.

Gak tau siapa yang bangun duluan besok paginya. Suara aliran sungai di kejauhan lah yang membangunkan gw, ternyata semalam sempat turun hujan, jadinya volume air sungai bertambah banyak, juga arusnya menjadi lebih deras dari hari kemarin. Sebenarnya efek terburuk dari hujan semalam adalah keruhnya air kedua sungai yang alirannya bertemu tepat di bawah penginapan kami.

Rencananya hari ini kami akan mengunjungi tempat penangkaran gajah sekaligus ikut memandikannya, lalu dilanjutkan bertubbing ria menuju air terjun, dan dilanjutkan pulang dengan berjalan kaki.

tanpa membuang waktu (bahkan gw gak mandi atau sikat gigi hiiii…) selesai sarapan, kami treking menuju tempat penangkaran gajah. Melewati deretan pohon kelapa sawit milik penduduk setempat sekitar 15 menit.

Sesampainya di tempat yang dituju, sekitar enam atau tujuh gajah lagi e’ek (baca: be’ol), di sini rombongan kami bergabung dengan 2 grup lain; yang satu adalah rombongan turis Spanyol yang kebetulan tinggal di penginapan yang sama dengan kami, semuanya cewe terdiri dari 2 muda dan 2 tua, lalu grup yang satu lagi tampaknya adalah sekeluarga, sayangnya gak tau dari mana, soalnya gak denger mereka ngomong bahasa apa.

Selesai e’ek, gajah-gajah itu pun dimandiin ama pawang-pawangnya, dan kita boleh ikut mandiin. Jadilah kami ikut menyikat hewan-hewan ekstra gede ini, asli loh kulitnya kasar banget, bulu di atas kulit kepalanya keras dan kaku kaya ijuk, tumbuhnya juga jarang-jarang. Gw ama temen-temen ganti-gantian foto ama gajah, buat bukti aja kalo udah pernah mandiin gajah hehehe…

Tubbing melalui Sungai Batang menuju air terjun lumayan jauh, makan waktu sekitar 10-15 menit. Gw duduk tepat di belakang Herman, guide kami yang jadi supir perjalan air ini, sementara yang lain berjejer di belakang gw. Beberapa kali melewati daerah berarus deras, membuat perahu ban rakitan kami berguncang cukup kuat. Setiap melewati tempat-tampat seperti ini, pada teriak-teriak kegirangan, asli jadi keliatan kampungan banget (ironisnya kami semua kan dari kota), si Andy tuh suaranya yang paling gede, mungkin dia emang takut beneran bukannya excited, soalnya kan dia gak bisa berenang hehehe.

Akhirnya sampe juga ditempat yang dimaksud, masih harus jalan kaki lagi sekitar 50 meter ke tepi sungai yang dangkal, kami pun disuguhkan sebuah air terjun yang indah banget, ukurannya gak sebesar Air Terjun Sipiso-piso, tapi debit airnya gak kalah deras.

Puas berfoto ria dan menikmati air terjun ini, kami pun melahap nasi goreng sederhana yang menjadi bekal makan siang kami. Mungkin karena lapar, basah dan kedinginan, nasi goreng sangat sederhana ini berhasil mengukir prestasi sebagai salah satu nasi goreng ter’enak yang pernah gw makan.

Selesai makan, masih sempat foto-foto lagi dikit, dengan sisa gaya yang tersedia, gw berupaya dengan keras untuk menampilkan gaya dan mimik terhebat yang gw miliki, hasilnya cukup narsis. Liat aja di FS hehehe.

Selesai berpamitan dengan sang air terjun, kami melanjutkan sisa jalur tubbing yang baru berakhir sekitar 15 menit kemudian, mungkin efek kekenyangan plus lelah, gw malah ngerasa ngantuk di sisa perjalanan tubbing ini. Setelah merapat ke bibir sungai yang berbatu, kami melanjutkan perjalanan pulang ke penginapan dengan berjalan kaki menyusuri pinggiran hutan dan kebun sawit milik penduduk setempat. Sesekali gw memantau permukaan kulit kaki gw, takut ada pacet yang nyolong ikut jalan-jalan, sekali lagi; negatif ! 

Sisa hari itu pun di habiskan berfoto2 sampe batere kameranya nyerah minta tolong.

Gw ama temen-temen masih sempet ke air terjun kecil di pinggiran hutan yang letaknya berdekatan dengan tempat penginapan kami. Dengan melawan arus Sungai Buluh, gw ama temen-temen berjalan kaki memasuki sebuah bukaan kecil di pinggiran Sungai buluh, di dalamnya ada air terjun kecil yang bisa dipanjati bebatuannya, walaupun basah tapi ternyata gak licin. Di sini air yang jatuh kalo dibiarkan menghantam punggung kita, rasanya kaya dipijet, enak banget…

Ternyata sesampenya di penginapan, gw baru ngerasa capek banget, gw sempet tidur bentar.

Malam terakhir di Tangkahan hanya diisi dengan makan dan ngobrol panjang lebar, rencananya besok pagi jam 5an udah ikut bus pulang ke Medan. Jam 11an pun pada tidur, soalnya takut ketinggalan bus, dari Tangkahan ke Medan cuma ada 2 kali jadwal keberangkatan; jam 5an pagi dan jam 2 sore…

Benar saja, bangunnya pada telat, di pagi buta yang cuma ada lampu teplok mungil sebagai penerangan, gw ama temen-temen berpacking dengan terburu-buru dan sedikit panik. Dengan bantuan senter masih harus menuruni anak-anak tangga yang tiba-tiba terasa banyak banget, menuju ke tepi sungai. Udara hutan di pagi hari yang dinginnya bener-bener nusuk ke tulang, plus tanpa sarapan juga gak sempat minum, plus lagi setengah ngantuk dan panik bener-bener bikin awal perjalanan pulang ke Medan ini jadi gak terkendali. Setelah duduk di bus lah baru ngerasa lega, dan perjalanan pulang pun di mulai.

Ternyata perjalanan pulang lebih cepet, sampai di Medan jam 9an pagi, rombongan anak-anak nekat yang udah kehabisan duit juga tenaga ini disambut guyuran hujan. Edi berpisah dengan rombongan karena rumahnya yang deket ama Terminal Pinang Baris, sisanya kami berlima planning sarapan bareng, tapi sebelumnya ke ATM dulu, udah kering bok!

… … … … …

Mampir ke Tangkahan adalah sebuah pengalaman yang gak sembarangan bisa didapat dengan mudah, gw bersyukur karenanya. Sebuah rencana nekat nyerempet gila yang berbuah sangat manis.

Dan gak mahal, gw cuma bawa Rp.350.000,- ampe medan sisa Rp. 15.000,-

 … … … … …